Labels

Serikat Pekerja Anggota Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa PT. Indorama Polyester Industries Indonesia (SPA FSPS PT. IPII) "Lakukan dan Lupakan"
Diberdayakan oleh Blogger.

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Persiapan Aksi Demonstrasi ke Gedung Mahkamah Agung, Rabu 04 Maret 2015

Anggota dan Pengurus utusan SPA FSPS PT. IPII yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) siap mengawal judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi di Gedung Mahkamah Agung, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Kamis, 02 April 2015

Dugaan Adanya Mal-Administrasi Perubahan TDP PT. IPII

Arsip SPA FSPS PT. IPII
Sebagaimana telah disinggung pada kabar sebelumnya (Tanda Daftar Perusahaan Dirubah) terdapat adanya kejanggalan dalam proses perubahan TDP tersebut. Sekadar informasi, berdasarkan data Ombudsman dari hasil investigasi April hingga September 2014, ditemukan adanya praktik penyelewengan pelayanan publik. Terutama soal pengurusan izin Surat Keterangan Domisili Perusahaan (SKDP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Izin Usaha Toko Modern (IUTM), Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) Hotel Melati atau akomodasi lainnya, dan Tanda Daftar Usaha Pariwisata (TDUP) Restoran atau Rumah Makan.

Ombudsman RI menuturkan masih banyak pegawai negeri sipil (PNS) yang membuka 'lapak sendiri' untuk menarik pungutan liar kepada masyarakat. Pihaknya masih menerima banyak laporan dari masyarakat terkait pungli dan pelayanan di Pemerintah. "Untuk mengubah hal tersebut, harus dilakukan upaya keras. Kalau tidak, ya tidak akan berhasil. Pemerintah harus berpegang pada UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik dan PP Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin PNS," kata Ketua Ombudsman RI Danang Girindrawardana.

Terkait TDP berdasarkan PerMenDag RI No. 37 Tahun 2007 Tentang Penyelenggaraan Pendaftaran Perusahaan Pasal 11,
(1) Perubahan yang dapat mengakibatkan penggantian TDP sebagai berikut :
a. pengalihan kepemilikan atau kepengurusan perusahaan;
b. perubahan nama perusahaan;
c. perubahan bentuk dan/atau status perusahaan;
d. perubahan alamat perusahaan;
e. perubahan Kegiatan Usaha Pokok; atau
f. khusus untuk PT termasuk perubahan Anggaran Dasar.
 
(4) Perubahan di luar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), cukup dilaporkan kepada Kepala KPP Kabupaten/Kota/Kotamadya setempat dan tidak perlu dilakukan penggantian TDP.

Dari isi Pasal 11 tersebut di atas cukup jelas bahwa PT. IPII tidak boleh melakukan perubahan terhadap TDP yang sudah berjalan puluhan tahun tersebut, dan sebagai akibatnya tercantum dalam Pasal 12, sebagai berikut:
Daftar perusahaan dan TDP dinyatakan batal, apabila perusahaan yang bersangkutan terbukti mendaftarkan data perusahaan secara tidak benar dan/atau tidak sesuai dengan izin teknis atau surat keterangan yang dipersamakan dengan itu, dengan menerbitkan Keputusan Pembatalan dengan menggunakan format surat sebagaimana tercantum dalam Lampiran VII Peraturan Menteri ini.

Ancaman lainnya selain yang tercantum dalam UU No. 3 Tahun 1982 Tentang Wajib Daftar Perusahaan, juga pada Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) sebagaimana tercantum pada :
 
BAB XII
PEMALSUAN SURAT

Pasal 263
(1) Barang siapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan sesuatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak dipalsu, diancam, jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam tahun.
(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat palsu atau yang dipalsukan, seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.

Pasal 264
(1) Pemalsuan surat diancam dengan pidana penjara paling lama delapan tahun, jika dilakukan terhadap:
a. akta-akta otentik;
b. surat hutang atau sertifikat hutang dari sesuatu negara atau bagiannya ataupun dari suatu lembaga umum;
c. surat sero atau hutang atau sertifikat sero atau hutang dari suatu perkumpulan, yayasan, perseroan atau maskapai;
d. talon, tanda bukti dividen atau bunga dari salah satu surat yang diterangkan dalam 2 dan 3, atau tanda bukti yang dikeluarkan sebagai pengganti surat-surat itu;
e. surat kredit atau surat dagang yang diperuntukkan untuk diedarkan.
 
(2) Diancam dengan pidana yang sama barang siapa dengan sengaja memakai surat tersebut dalam ayat pertama, yang isinya tidak sejati atau yang dipalsukan seolah-olah benar dan tidak dipalsu, jika pemalsuan surat itu dapat menimbulkan kerugian.

Pasal 266
(1) Barang siapa menyuruh memasukkan keterangan palsu ke dalam suatu akta otentik mengenai sesuatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, diancam, jika pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun;

(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai akta tersebut seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran, jika karena pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian.

Demikian semoga menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Salam "Lakukan dan Lupakan"

Sabtu, 14 Maret 2015

Pengusaha Masih Membayar Upah Pekerja Dibawah Upah Minimum

Credit Images: http://askep-net.blogspot.kr
Sampai saat ini (14/03/2015) pengusaha masih tetap membayar upah pekerja/buruh dengan mengacu pada upah minimum tahun 2014, padahal upah minimum tahun 2015 sudah diberlakukan mulai tanggal 1 Januari. Tanpa ada persetujuan dari pihak yang berwenang pengusaha masih tetap pada pendiriannya membayar upah pekerja/buruh dengan upah tahun 2014 dengan alasan belum adanya kesepakatan mengenai penentuan Upah Minimum Kelompok Usaha (UMKU) antara pengusaha dengan serikat pekerja/buruh.

Upah Minimum sebagaimana dimaksud pada Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 561/Kep. 1746-Bangsos/2014 yaitu UMKU-3 sebesar Rp. 3.415.000. Menurut Pasal 90 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum dan menurut Permenakertrans No. 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum, Pasal (2) Upah Minimum terdiri dari Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) atau Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK). Larangan tersebut, menyangkut beberapa aspek hukum, baik perdata maupun pidana, dan bahkan aspek hukum administrasi.

Dari aspek hukum pidana, pengusaha yang membayar upah dibawah upah minimum (tanpa adanya persetujuan penangguhan dari yang berwenang) merupakan pelanggaran tindak pidana kejahatan dengan ancaman hukuman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah), sebagaimana disebutkan dalam Pasal 185 ayat (1) dan (2) UU Ketenagakerjaan.

Dari aspek hukum perdata, berdasarkan Pasal 52 ayat (1) huruf d UU Ketenagakerjaan dan Pasal 1320 ayat 4 jo Pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”), bahwa kesepakatan dalam suatu perjanjian, termasuk perjanjian kerja, tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Atau dengan perkataan lain, kesepakatan (konsensus) para pihak causa-nya harus halal, dalam arti suatu causa terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang. Dengan demikian memperjanjikan upah di bawah upah minimum adalah null and void, batal demi hukum (vide Pasal 52 ayat [3] UU Ketenagakerjaan).

Dari aspek hukum administrasi, berdasarkan Pasal 90 ayat (2) UU Ketenagakerjaan jo Pasal 2 ayat (2) jo Pasal 3 ayat (2) Kepmenakertrans No. Kep-231/Men/2003 dan Pasal 2 ayat (3) Permenekartrans. No. Per-01/Men/I/2006, bahwa apabila pengusaha tidak mampu membayar upah minimum dan telah ada kesepakatan untuk membayar menyimpang/kurang dari ketentuan upah minimum, maka kesepakatan tersebut (antara pekerj/buruh dengan pengusaha) harus didasarkan atas persetujuan penangguhan dari pihak yang berwenang (dalam hal ini Gubernur setempat). Dengan kata lain, walau telah ada kesepakatan, apabila tidak/belum mendapat persetujuan (penangguhan) tidak dapat diterapkan.

Kita coba tengok kasus hukum yang saya coba copas dari:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/04/25/08215445/Bayar.Karyawan.di.Bawah.UMR.Pengusaha.Dijatuhi.Hukuman

Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 1 tahun dan denda Rp 100 juta kepada Tjioe Christina Chandra, pengusaha asal Surabaya yang membayar karyawannya dibawah upah minimum regional. Sanksi pidana kepada pengusaha itu yang pertama di Indonesia.

Vonis kasasi itu dipimpin ketua majelis hakim Zaharuddin Utama, dengan anggota majelis Prof Dr Surya Jaya dan Prof Dr Gayus Lumbuun dalam perkara Nomor 687 K/Pid.Sus/2012.

Menurut anggota majelis hakim, Gayus Lumbuun, di Jakarta, Rabu (24/4/2013), hukuman pidana itu diberikan atas dasar pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, yakni Pasal 90 Ayat (1) dan Pasal 185 Ayat (1). Pasal 90 Ayat (1) menyebutkan, pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum. Sementara Pasal 185 Ayat (1) menyebutkan, pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun, dan/atau denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 400 juta.

Gayus menekankan, pengabaian terhadap ketentuan UMR merupakan tindak kejahatan. Di tengah kondisi negara yang diwarnai banyak pengangguran dan rakyat berkekurangan untuk mendapatkan pencarian, banyak penyalahgunaan keadaan. Dalam perkara tersebut, penyalahgunaan dilakukan oleh pengusaha. Hukuman minimal yang diberikan itu merupakan tahap awal sebagai pembelajaran masyarakat. Ke depan, pengusaha yang melakukan kejahatan serupa dan dilaporkan, akan dikenakan sanksi.

”Kami berharap putusan ini memberikan efek jera agar pengusaha tidak menyalahgunakan keadaan dan menaati aturan upah minimum. MA masih bisa diharapkan sebagai benteng terakhir untuk memperjuangkan hak buruh,” ujarnya.
 

Berita Nasional Terkini