Labels

Serikat Pekerja Anggota Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa PT. Indorama Polyester Industries Indonesia (SPA FSPS PT. IPII) "Lakukan dan Lupakan"
Diberdayakan oleh Blogger.

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Mahkamah Konstitusi Jl. Merdeka Barat No. 6 Jakarta Pusat

Pengawalan Judicial Review Perda Ketenagakerjaan Jawa Barat No. 06 Tahun 2014 dan UU No. 02 Tahun 2004

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Gedung DPR RI Jl. Jend. Gatot Subroto No. 6 Jakarta Selatan

FSPS Menolak Revisi UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003

Persiapan Aksi Demonstrasi ke Gedung Mahkamah Agung, Rabu 04 Maret 2015

Anggota dan Pengurus utusan SPA FSPS PT. IPII yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) siap mengawal judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi di Gedung Mahkamah Agung, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Aksi Demonstrasi FSPS di Gedung Mahkamah Agung dan Kementrian Dalam Negeri, Rabu 04 Maret 2015

FSPS yang tergabung dalam Aliansi Jawa Barat (Aljabar) melakukan judicial review atas terbitnya Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 tentang Ketenagakerjaan

Sabtu, 14 Maret 2015

Pengusaha Masih Membayar Upah Pekerja Dibawah Upah Minimum

Credit Images: http://askep-net.blogspot.kr
Sampai saat ini (14/03/2015) pengusaha masih tetap membayar upah pekerja/buruh dengan mengacu pada upah minimum tahun 2014, padahal upah minimum tahun 2015 sudah diberlakukan mulai tanggal 1 Januari. Tanpa ada persetujuan dari pihak yang berwenang pengusaha masih tetap pada pendiriannya membayar upah pekerja/buruh dengan upah tahun 2014 dengan alasan belum adanya kesepakatan mengenai penentuan Upah Minimum Kelompok Usaha (UMKU) antara pengusaha dengan serikat pekerja/buruh.

Upah Minimum sebagaimana dimaksud pada Surat Keputusan Gubernur Jawa Barat No. 561/Kep. 1746-Bangsos/2014 yaitu UMKU-3 sebesar Rp. 3.415.000. Menurut Pasal 90 ayat (1) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum dan menurut Permenakertrans No. 7 Tahun 2013 tentang Upah Minimum, Pasal (2) Upah Minimum terdiri dari Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), Upah Minimum Sektoral Provinsi (UMSP) atau Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK). Larangan tersebut, menyangkut beberapa aspek hukum, baik perdata maupun pidana, dan bahkan aspek hukum administrasi.

Dari aspek hukum pidana, pengusaha yang membayar upah dibawah upah minimum (tanpa adanya persetujuan penangguhan dari yang berwenang) merupakan pelanggaran tindak pidana kejahatan dengan ancaman hukuman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 4 (empat) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah), sebagaimana disebutkan dalam Pasal 185 ayat (1) dan (2) UU Ketenagakerjaan.

Dari aspek hukum perdata, berdasarkan Pasal 52 ayat (1) huruf d UU Ketenagakerjaan dan Pasal 1320 ayat 4 jo Pasal 1337 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (“KUH Perdata”), bahwa kesepakatan dalam suatu perjanjian, termasuk perjanjian kerja, tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundang-undangan. Atau dengan perkataan lain, kesepakatan (konsensus) para pihak causa-nya harus halal, dalam arti suatu causa terlarang, apabila dilarang oleh undang-undang. Dengan demikian memperjanjikan upah di bawah upah minimum adalah null and void, batal demi hukum (vide Pasal 52 ayat [3] UU Ketenagakerjaan).

Dari aspek hukum administrasi, berdasarkan Pasal 90 ayat (2) UU Ketenagakerjaan jo Pasal 2 ayat (2) jo Pasal 3 ayat (2) Kepmenakertrans No. Kep-231/Men/2003 dan Pasal 2 ayat (3) Permenekartrans. No. Per-01/Men/I/2006, bahwa apabila pengusaha tidak mampu membayar upah minimum dan telah ada kesepakatan untuk membayar menyimpang/kurang dari ketentuan upah minimum, maka kesepakatan tersebut (antara pekerj/buruh dengan pengusaha) harus didasarkan atas persetujuan penangguhan dari pihak yang berwenang (dalam hal ini Gubernur setempat). Dengan kata lain, walau telah ada kesepakatan, apabila tidak/belum mendapat persetujuan (penangguhan) tidak dapat diterapkan.

Kita coba tengok kasus hukum yang saya coba copas dari:
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2013/04/25/08215445/Bayar.Karyawan.di.Bawah.UMR.Pengusaha.Dijatuhi.Hukuman

Mahkamah Agung menjatuhkan hukuman 1 tahun dan denda Rp 100 juta kepada Tjioe Christina Chandra, pengusaha asal Surabaya yang membayar karyawannya dibawah upah minimum regional. Sanksi pidana kepada pengusaha itu yang pertama di Indonesia.

Vonis kasasi itu dipimpin ketua majelis hakim Zaharuddin Utama, dengan anggota majelis Prof Dr Surya Jaya dan Prof Dr Gayus Lumbuun dalam perkara Nomor 687 K/Pid.Sus/2012.

Menurut anggota majelis hakim, Gayus Lumbuun, di Jakarta, Rabu (24/4/2013), hukuman pidana itu diberikan atas dasar pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan, yakni Pasal 90 Ayat (1) dan Pasal 185 Ayat (1). Pasal 90 Ayat (1) menyebutkan, pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah minimum. Sementara Pasal 185 Ayat (1) menyebutkan, pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dikenakan sanksi pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 4 tahun, dan/atau denda paling sedikit Rp 100 juta dan paling banyak Rp 400 juta.

Gayus menekankan, pengabaian terhadap ketentuan UMR merupakan tindak kejahatan. Di tengah kondisi negara yang diwarnai banyak pengangguran dan rakyat berkekurangan untuk mendapatkan pencarian, banyak penyalahgunaan keadaan. Dalam perkara tersebut, penyalahgunaan dilakukan oleh pengusaha. Hukuman minimal yang diberikan itu merupakan tahap awal sebagai pembelajaran masyarakat. Ke depan, pengusaha yang melakukan kejahatan serupa dan dilaporkan, akan dikenakan sanksi.

”Kami berharap putusan ini memberikan efek jera agar pengusaha tidak menyalahgunakan keadaan dan menaati aturan upah minimum. MA masih bisa diharapkan sebagai benteng terakhir untuk memperjuangkan hak buruh,” ujarnya.

Mekanisme “Judicial Review” di MA Digugat ke MK

Muhammad Hafidz selaku Pemohon saat sesi wawancara oleh
media elektronik, Kamis (12/3) di Gedung MK. Foto Humas/Ganie
Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang perdana Perkara Nomor 30/PUU-XIII/2015 yang dimohonkan oleh Muhammad Hafidz, Wahidin dan Solihin dengan agenda pemeriksaan pendahuluan pada Kamis (12/3), di Ruang Sidang Pleno MK. Adapun ketentuan yang diujikan dalam perkara ini adalah Pasal 31A ayat (4) UU No. 3 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung (UU MA). Para Pemohon menganggap ketentuan tersebut telah merugikan hak-hak konstitusional mereka, terkait tertutupnya proses pemeriksaan persidangan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang di MA.

“Para Pemohon tidak dapat mengetahui sejauh mana permohonannya diperiksa dan juga tidak bisa menghadirkan ahli atau saksi untuk didengar keterangannya, serta tanpa persidangan yang terbuka, para Pemohon tidak memiliki kesempatan untuk mengetuk pintu hati nurani hakim akan pentingnya permohonan yang diajukan,” urai Hafidz, di hadapan majelis sidang panel yang dipimpin oleh Wakil Ketua MK, Anwar Usman.

Menurut Hafidz, kewenangan pengujian peraturan perundang-undangan yang dimiliki oleh MA mempunyai karakteristik yang berbeda dengan kewenangan penyelesaian perselisihan oleh badan peradilan. Pengujian peraturan perundang-undangan, lanjut Hafidz, mempunyai karakteristik putusan yang bersifat final dan mengikat. Selain itu, putusan pengujian peraturan perundang-undangan akan mengikat bukan hanya kepada para pemohon, namun juga masyarakat pada umumnya.

“Nuansa public interest dalam pengujian ketentuan peraturan perundang-undangan, merupakan pembeda yang sangat jelas dengan perkara pidana, perdata dan tata usaha negara, yang pada umumnya menyangkut kepentingan pribadi dan individu berhadapan dengan individu lain atau pemerintah,” papar Hafidz.

Lebih lanjut, Hafidz menyatakan bahwa tidak adanya pengaturan tentang proses pemeriksaan dalam pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang akan mengakibatkan tidak adanya batas-batas hukum bagi MA dalam menjalankan kewenangannya. “Akan menjadi liar karena tidak ada ukuran-ukuran hukum atau batas-batas hukum yang jelas bagi Mahkamah Agung dalam menjalankan wewenangnya, yaitu salah satunya untuk memeriksa dan memutus sebuah permohonan pengujian ketentuan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan di atasnya,” kata Hafidz.

Untuk itu dalam petitumnya, Hafidz meminta putusan provisi kepada majelis hakim, yakni agar MA melakukan penundaan terhadap seluruh pemeriksaan permohonan pengujian peraturan perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang. Selain itu, hafidz juga meminta agar majelis hakim mengabulkan permohonan dan menyatakan Pasal 31A ayat (4) UU a quo dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat sepanjang tidak dimaknai bahwa permohonan pengujian peraturan perundang-undangan oleh MA diputus paling lama 14 hari, yang pemeriksaan dan pembacaan putusannya dilakukan melalui sidang terbuka untuk umum.

Menanggai permohonan tersebut, Majelis Panel memberikan masukan dan nasihat terhadap permohonan. Hakim Konstitusi Wahiduddin Adams meminta kepada Pemohon agar lebih memperkuat posita (alasan permohonan). Menurut Wahiduddin, Pemohon harus lebih menguraikan secara mendalam tentang landasan filosofi perlunya pemeriksaan dan pembacaan putusan yang dilakukan dalam sidang terbuka untuk umum. Selain itu, Pemohon juga harus menguraikan aturan-aturan yang terkait dengan perlunya pemeriksaan dan pembacaan putusan yang dilakukan dalam sidang terbuka untuk umum.

Sementara itu, Hakim Konstitusi Suhartoyo meminta kepada Pemohon agar melampirkan tanda bukti kalau Pemohon mengajukan permohonan pengujian ke MA. Sebelumnya, para Pemohon sempat menyampaikan kepada majelis hakim bahwa mereka kini sedang mengajukan permohonan uji materi Peraturan Daerah Provinsi Daerah Jawa Barat Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Ketenagakerjaan di MA. Selain itu, Suhartoyo juga meminta kepada Pemohon agar lebih mencermati dan meneliti lagi keberadaan peraturan yang mengatur pemeriksaan pengujian peraturan perundang-undangan di MA.

“Memang benar perlu diteliti dengan cermat apakah aturan-aturan itu enggak ada, atau memang ada, tapi kemudian hanya pada tataran implementasi yang bisa menjadi persoalan atau penafsiran,” kata Suhartoyo.

Sedangkan Hakim Konstitusi Anwar Usman menanyakan kepada para Pemohon apakah memang benar pasal yang akan diuji adalah Pasal 31A ayat (4), karena ketentuan tersebut hanya mengatur masalah batas waktu penyelesaian permohonan uji materiil di MA. Menurut Anwar, ketentuan yang lebih terkait dengan sidang yang terbuka untuk umum adalah Pasal 40 ayat (2). “Nah, kaitannya dengan pelaksanaan sidang, ya, jadi terutama masalah sidang yang terbuka untuk umum itu di Pasal 40 ayat (2), kok yang diuji Pasal 31. Apa memang maunya begitu, ya. Artinya mungkin belum mengkaji Pasal 40 ayat (2),” kata Anwar. Selanjutnya, para Pemohon diberi waktu 14 hari untuk memperbaiki permohonannya.(Triya IR)

Sumber: www.mahkamahkonstitusi.go.id
http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.Berita&id=10685